Sudahkah aku memberitahumu bahwa aku rindu?
Ini jarak yang jauh antara kau dan aku, tapi rindu tetaplah rindu. Ia butuh temu, butuh kamu.
Andai aku bisa membaca arah jalan pikiranmu. Tapi nyatanya aku tak bisa.
Aku hanya bisa menyimpan rindu padamu dalam buih-buih doa.
Entah ia adalah buku yang kau abaikan atau udara yang kau sepelekan. Ia tetap akan selalu ada disana, rindu itu. Menunggu menjemputnya.
Tidakkah cukup airmata ini menggenang disudut mataku tiap kali aku merindukanmu. Tidakkan cukup gemuruh dalam hatiku mengusik sunyinya malammu.
Mungkin memang banyal hal yang tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerinduan ini.
Sebelum kamu, sebelum aku, dipertemukan atas nama rindu.