Kamis, 19 Februari 2015

Entah bagaimana denganmu, aku tak tahu. Yang jelas bagiku ini rumit. Memusingkan. Kau tahu, jujur saja, aku lelah. Mengkhawatirkan dengan siapa kamu sekarang. Siapa yang kau pikirkan sebelum tidur. Siapa yang kau khawatirkan dan kau rindukan selain ibumu. Dan apa yang sedang kau pikirkan sekaarang. Apa arti dari tiap senyum dan tatapanmu.
Aku ingin tahu. Sangat ingin tahu. Tapi semua itu melelahkanku. Seperti harus berpikir ekstra saat ujian.
Seharusnya me3nyayangimu saja sudah cukup dan tak seharusnya aku merasa lelah. Itu jika kau mengerti. Jika kau membalas perasaan ini dan tak membiarkanku jatuh terlalu dalam.
Tahukah kamu, meskipun ini melelahkan, meskipun semua perasaan ini harus ku tanggung sendiri aku bahagia. Setiap senyummu selalu membawa hangat dalam hatiku. Setiap perlakuan manismu selalu melambungkan hatiku. Setiap kali aku ragu, hatiku selalu meyakinkanku untuk kembali kuat untuk menyayangimu.
Jadi, kuputuskan untuk menjalani saja lelah ini. Mungkin nanti, ketika aku sudah benar-benar tak mampu akan ada seseorang yang menopangku dan kembali membuatku kembali tegak dan tersenyum lebar.
Mungkinkah orang itu kamu?
Entahlah. Aku tak tahu. Mari jalani semua perasaan ini sampai akhir. Agar aku tahu siapakah orang yang akan memperlakukanku seperti aku memperlakukanmu sekarang.

Sabtu, 14 Februari 2015

Karena kamu.

Kamu..
Tanpa banyak bertanya kau hadir dalam hidupku.
Kamu..
Awalnya aku hanya memandangmu dari jauh.
Bagiku kau hanya orang asing di seberang jangkauanku.

Kemudian, kau mendekat.
Masuk dalam area jangkauanku.
Hatiku berdesir.
Perutku di penuhi ratusan kupu-kupu yang beterbangan ketika kau menyibakkan rambutku.
Tanganku menghangat tepat saat kau menggenggam jemariku.

Kamu hadir dalam diam.
Membawakan derai tawa.
Membawakan segenggam luka.
Membawakan secangkir rasa cemburu.
Hingga membuatku terswnyum malu-malu.

Aku bertahan.
Terluka.
Cemburu.
Berbalik.
Kembali.
Dan tersenyum.
Karena kamu.

Aku mendekat, kamu menjauh.
Aku menjauh, kamu mendekat.

Aku bertahan, kamu tak acuh.
Aku berpaling, kamu buat aku kembali luluh.

Kini hatiku tak lagi bergetar.
Tapi bibirku menyunggingkan senyum.
Kini sentuhanmu tak lagi meninggalkan jejak di kulitku.
Tapi aku tersipu.

Aneh memang, ketika aku ingin menjauh, perasaan itu menahanku.
Bodoh.
Mungkin begitulah aku sekarang.

Tapi, akan kunikmati rasa ini sendirian.
Tersenyum karenamu.
Tersipu karena perlakuanmu.
Dan terluka karena tahu kau tak akan pernah jadi milikku.

Begitulah aku, karenamu.
Karena kamu penghuni hatiku.