Sabtu, 08 Juli 2017

Kosong. Setiap aku ingin mengisahkan tentang kita, yang tertinggal hanyalah kekosongan. Kertas putih itu tak pernah terisi dengan apapun. Tidak dengan kalimat, tidak pula dengan kata. Rasanya jari-jariku membeku, tak dapat kugerakkan. Ia terdiam, yang ada hanya sepasang mata yang memandang hampa.
Lalu, bagaimana caranya aku ingin mengisahkan tentang kita jika aku saja tak sanggup menuliskannya. Katamu, aku bisa bercerita. Namun bibirku juga membisu. Tak ada sepatah katapun yang terucap.
Kau tau, sesulit inikah menggambarkan tentang kita. Tentang apa yang sudah kita bagi. Tentang apa yang sudah kita lewati. Dan tentang semua yang telah berubah.
Mungkin semua kekosongan itu, semua kata yang tak pernah terucap itu berasal dari hatiku yang hampa. Ia membeku, kebas, tak merasakan apapun.
Aku tertegun, inikah jalan yang harus kutempuh. Inikah cara Tuhan mengajarkanku kesabaran. Inikah cerita yang harus kuselesaikan sebelum kutulis.
Aku gundah. Jujur saja, semua ini menyiksa. Lalu bagaimana aku harus bersikap. Bagaimana akhirnya.
Itu, dan segala pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.

Selasa, 28 Februari 2017

Hei , apa kabarmu? Rindukah kau padaku?
Sudahkah aku memberitahumu bahwa aku rindu?
Ini jarak yang jauh antara kau dan aku, tapi rindu tetaplah rindu. Ia butuh temu, butuh kamu.
Andai aku bisa membaca arah jalan pikiranmu. Tapi nyatanya aku tak bisa.
Aku hanya bisa menyimpan rindu padamu dalam buih-buih doa.
Entah ia adalah buku yang kau abaikan atau udara yang kau sepelekan. Ia tetap akan selalu ada disana, rindu itu. Menunggu menjemputnya.
Tidakkah cukup airmata ini menggenang disudut mataku tiap kali aku merindukanmu. Tidakkan cukup gemuruh dalam hatiku mengusik sunyinya malammu.
Mungkin memang banyal hal yang tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerinduan ini.
Sebelum kamu, sebelum aku, dipertemukan atas nama rindu.