Aku kembali ke tempat ini, tempat dimana aku suka menyendiri. Menurutku disini aku bisa bercerita pada angin tentang perasaanku. Aku bisa terlelap dan melanjutkan tiap mimpi yang selalu temani tidurku di tempat ini. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Tapi apa yang ingin aku katakan. Aku tak tahu harus berkata apa. Kini dia ada dihadapanku, tapi aku hanya membisu. Sudahkah aku mengatakan cintaku padanya jika selama ini aku hanya bisa diam saja. Aku merasa ada yang menetes dipipiku. Tak kusadari air mataku mengalir begitu saja. Tapi kenapa aku menangis. Bahkan aku tak tahu apa alasanku untuk menitikan air mata.
Kurasakan tangan itu begitu lembut mengusap pipiku, menghapus titik-titik air mata yang liar membasahinya. Dan dia bertanya, "Mengapa kau menangis? Apa aku yang telah membuatmu menangis?". Aku hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaannya atau bahkan menyalahkannya tentang tangisku jika aku saja tak tahu mengapa aku menangis.
Aku telah lama mengenal orang yang kini ada di hadapanku ini. Pemuda tampan dengan tatapan mata coklatnya yang teduh. Namun entah mulai kapan aku menyukainya lebih dari sekedar persahabatan. Benarkah ini lebih dari persahabatan? Aku terus menerus menanyakan hal itu pada diriku sendiri. Tapi aku tak bisa memastikannya pada hatiku. Apakah dia merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, aku tak ingin merusak persahabatan kami. Aku semakin tersedu-sedu dalam tangisku. Dan dia semakin bingung melihatku seperti ini.
"Mengapa kau seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Kumohon ceritakan padaku, jangan membuatku ketakutan karena harus melihatmu gundah seperti ini"
Dan skali lagi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Oh.. Tuhan, orang macam apa aku ini yang akan menyakiti hatinya jika kuungkap perasaanku. Mengapa hatiku segundah dan segalau ini. Tak kusadari aku tertidur dalam tangisku. Hingga kemudian muncullah mimpi itu.
Aku memimpikan dia, sahabatku sekaligus orang yang aku cinta. Aku memimpikan tentang bagaimana awal pertemuan kami dan kisah-kisah yang kami lalui bersama. Aku bertemu dengannyna saat hari pertamaku di SMP. Dia sekelas denganku dan menjadi teman sebangkuku. Dia seseorang dengan perasaan yang paling indah yang kurasakan. Dia selalu menjadi orang yang ceria, dengan senyumannya yang begitu renyah dan menghipnotis orang lain. Siapapun akan merasa nyaman berada didekatnya. Dan akan ikut merasakan saemangatnya yang menggebu. Dia seperti orang yang hidup tanpa beban sedikitpun dihatinya. Dia akan selalu ada untukku, saat aku menangis, terutama saat aku sedang merasa bahagia. Menurutnya, senyumanku adalah bahagianya dan tangisanku adalah kesedihannya. Jadi sebagai seorang sahabat dia akan selalu menemaniku menagis dan tertawa. Sekian lama aku menjadi kawannya, aku tahu semua sifat baik dan buruknya. Hingga suatu hari aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku saat aku berada di dekatnya. Hatiku bergetar saat melihat senyumannya. Jantungku bertalu-talu setiap dia menyebut namaku. Awalnya aku merasa hal-hal semacam itu bukanlah hal yang perlu untuk dipikirkan, tapi ternyata semakin hari perasaan itu semakin menjadi-jadi. Senyumnya, tatapan matanya, bisikan suaranya, semua yang ada pada dirinya semakin membuatku gila. Aku tak yakin kalau ini cinta. Aku merasa sakit saat dia melabuhkan cintanya untuk orang lain. Bunga-bunga yang selalu dia bawa, dia bilang bunga itu untuk orang yang dikasihinya. Setiap puisi yang dia ciptakan itu untuk orang yang disayanginya. Surat-surat cinta yang selalu dia tulis dengan penuh ketulusan hanya untuk pujaan hatinya. Dan aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, siapakah dia yang begitu beruntung menerima cinta kasih dari sahabatku ini. Bibirku tersenyum, tapi hatiku menangis. Apa yang harus aku lakukan, bersikap biasa selayaknya seorang sahabat yang selama ini dia kenal. Atau terluka selayaknya seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku kembali menitikan air mata, aku kembali menangisi yang terjadi. Tangisku untuk cinta yang tak seharusnya terjadi.
Lalu aku mendengar bisikkan yang lembut itu.
"Janganlah kau menangis dan terluka sendirian. Percayalah pada hatimu saat tak ada lagi orang yang bisa kau percaya. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Akan selalu ada yang berusaha menjaga hatimu meskipun kau tak tahu. Takdirmu takkan berubah jika kau tak berusaha merubahnya menjadi lebih baik. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Karena akan ada seseorang yang akan lebih tersiksa saat melihat hatimu hancur."
Kubuka mataku saat bisikan itu perlahan berubah jadi isak tangis. Ada yang menangis disampingku, terisak. Ternyata dia, sahabatku, cintaku. Dia yang menangis di sebelahku. Aku beranikan diri untuk bertanya padanya.
"Mengapa kau menangis, adakah yang telah melukai hatimu"
"Yeah, aku menangis karena melihat hatimu hancur seperti ini. Karena aku melihatmu begitu terluka karena memendam deritamu sendirian."
Jawabannya membuatku tak bisa berkata-kata, aku hanya bisa diam saja. Setelah sekian lama keheningan itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang kurasa.
"Tolong dengarkan aku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aku melanjutkan kata-kataku sebelum dia mengatakan sesuatu. "Aku memendam perasaan yang lebih dari sekedar persahabatan padamu. Aku terluka saat mengetahui kau melabuhkan cintamu untuk gadis lain. Aku tak ingin merusak persahabatan kita yang sudah kita jalin sejak lama jika aku ungkapkan perasaanku padamu. Atau membuatmu tak ingin mengenalku dan menjauhiku. Aku takut kau menghilang jika aku berkata-kata, maka aku putuskan untuk menyimpan perasaan ini sendirian, juga semua luka yang kurasakan karena kecewa tak dapat ungkapkan ini padamu."
Kuungkapkan semua yang terlintas difikiranku saat itu. Namun dia hanya diam saja mendengar penuturanku. Tanpa kata, hanya keterkejutan yang kulihat membingkai wajahnya saat ini. Lalu kemudian kurasakan kehangatan dekapan tangannya. Kelembutannya saat mengecup puncak kepalaku. Tuhan... dia sedang memelukku, mendekapku dengan kehangatan tubuhnya.
"Jadi itu yang kau rasakan selama ini. Jadi karena ini kau terluka dan mencoba untuk menghindariku. Dasar bodoh, kau pikir aku mencintai orang lain. Kau pikir bunga, puisi dan surat cinta itu untuk orang lain." Aku hanya tertegun mendengarnya bicara, aku tak mengerti kata-katanya. Apa yang sebenarnya dia maksudkan.
"Apa kau tak pernah membuka lokermu. hhe."
Aku semakin tak mengerti dengan kata-katanya, namun aku tetap menjawab pertanyaannya. "Sudah dari awal semester tahun lalu aku tak pernah menggunakan loker sekolah. Karena kupikir buku-bukuku bisa ku bawa pulang karena tak terlalu memberatkan."
Tapi mendengar jawabanku dia malah tertawa. "Pantas saja kau tak pernah tahu apa isinya."
"Maksudmu?"
"Renata Annabelle. Sahabatku, semua bunga, puisi dan surat cintaku hanya kuberikan untukmu seorang. Tahukah kau saat aku katakan senyummu adalah bahagiaku dan tangismu adalah sedihku, saat itu aku ingin menjagamu agar tak terluka. Karena aku tak mau ada orang yang menyakiti seseorang yang aku cintai, orang yang paling berharga dalam hidupku."
Kini semuanya terasa sangat jelas, kini aku mengerti apa yang dikatakannya. Dia mencintaiku, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Dan gadis yang beruntung menerima kasih tulusnya itu ternyata adalah aku.
"Jadi kau mencintaiku?"
"Tentu saja, bahkan lebih dari yang sekedar kau harapkan. Jadi sekarang maukah seorang Renata menerima cintaku."
"Ray Saputra, tentu dengan senang hati aku akan menjaga hati dan cintamu."
"Terima kasih." Dan dia kembali memelukku dengan erat.
Aku menyadari satu hal. Bahwa cinta yang tulus itu harus diungkapkan, bukan untuk dipendam sendirian. Apapun jawabannya nanti bukanlah penghalang kita untuk ungkapkan cinta. Karena takkan ada yang tahu tentang sebuah akhir, jika tidak memulai dari awal.
Ray Saputra
Dia disini, ditempat favoritnya untuk menyendiri. Dibukit yang biasa lami datangi saat kami merasa galau, sedih, bahkan saat kami ingin mengungkapkan kegembiraan. Tapi hari ini dia bebeda, matanya yang biasanya penuh dengan keceriaan hari ini terklihat begitu sendu. Kemudian aku melihat kilau air mata di ujung matanya. Aku bertanya mengapa dia menitikan air mata. Tapi hanya gelengan kepala yang ku terima sebagai jawaban.
Siapa yang melukai pujaan hatiku. Siapa yang melukai permata jiwaku. Lalu ku lihat ia semakin tersedu dalam tangisannya. Dia tertidur dalam pelukkanku. Dia kelelahan karena menangis seperti itu. Tidurnya terlihat tenang. Tapi kerutan diantara matanya tak mau hilang. Keheningan membuatku takut, mungkinkah dia pingsan dan bukannya tertidur. Lalu aku melihat bulir-bulir bening air mata membasahi pipinya. Dia menangis dalam tidurnya. Seberat apa luka yang dipendamya. Kubisikkan kata-kata itu di telinganya, karena aku terlalu khawatir padanya
"Janganlah kau menangis dan terluka sendirian. Percayalah pada hatimu saat tak ada lagi orang yang bisa kau percaya. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Akan selalu ada yang berusaha menjaga hatimu meskipun kau tak tahu. Takdirmu takkan berubah jika kau tak berusaha merubahnya menjadi lebih baik. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Karena akan ada seseorang yang akan lebih tersiksa saat melihat hatimu hancur." Dan tak terasa aku ikut menagis bersamanya. Ternyata tangisku membangunkannya. Dia terlihat bingung melihatku menangis. Namun kemudian dia mengungkapkan perasaannya padaku. Ternyata dia begitu terluka karena aku, karena dia kira aku mencintai orang lain. Dasar gadis bodoh, mana mungkin aku mencintai orang lain jika semua bunga, puisi dan surat-surat cintaku, ku selipkan dilokernya. Apa dia tak pernah membuka isi lokernya. Kupeluk ia seerat mungkin. Betapa bahagiannya aku mendengar penuturannya.
"Apa kau tak pernah membuka lokermu. hhe."
"Sudah dari awal semester tahun lalu aku tak pernah menggunakan loker sekolah. Karena kupikir buku-bukuku bisa ku bawa pulang karena tak terlalu memberatkan." jawabnya dengan polos dan merasa bingung akan pertanyaanku. Dan tanpa perlu menunggu reaksinya yang lain aku tertawa mendengar jawaban lugunya.
"Pantas saja kau tak pernah tahu apa isinya.""Maksudmu?" Tanyanya sembari melepaskan pelukkanku, dia mencoba mencari kejelasan dari mataku.
"Renata Annabelle. Sahabatku, semua bunga, puisi dan surat cintaku hanya kuberikan untukmu seorang. Tahukah kau saat aku katakan senyummu adalah bahagiaku dan tangismu adalah sedihku, saat itu aku ingin menjagamu agar tak terluka. Karena aku tak mau ada orang yang menyakiti seseorang yang aku cintai, orang yang paling berharga dalam hidupku."
"Jadi kau mencintaiku?"
"Tentu saja, bahkan lebih dari yang sekedar kau harapkan. Jadi sekarang maukah seorang Renata menerima cintaku."
"Ray Saputra, tentu dengan senang hati aku akan menjaga hati dan cintamu."
"Terima kasih." Kembali aku memeluknya, dan kali ini aku tak ingin melihat lagi air matanya. Aku hanya ingin melihat senyum bahagianya, disini, disisiku, selamanya.
Epilouge_
Sungguh menyenangkan menggandeng tangannya dikoridor sekolah ini. Menyusurinya menuju kelas kami. Dan aku teringat sesuatu.
Lokerku. Apa yang ada didalamnya, aku jadi penasaran.
"Sebaiknya kau ke kelas duluan." Pintaku padanya.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanyanya bingung.
"Ada sesuatu yang tertinggal. Jadi harus kuambil."
"Biar aku temani."
"Tak perlu, sudah kau duluan saja. Aku akan segera menyusul."
"Baiklah kalu kau ingin seperti itu. Jangan lama-lama yya."
"Iyya."
Setelah dia beranjak pergi aku berjalan menuju lokerku. Sudah lama aku tak membukanya. Kuputar kunci loker itu. Aku kaget melihat isinya. Ternyata begitu banyak rangkaian bunga di dalamnya. Mulai dari bunga yang masih baru hingga bunga yang sudah layu. Juga ada lembaran surat serta puisi disana. Kulihat nama pengirimnya. Dan disana tertulis namanya,
Ray Saputra.
Malang, 30 September 2011
A Story by
Rulita Kurnia