Senin, 23 Mei 2022

Senja dan Jingga

Disini aku terduduk sendiri. Disudut bangku taman dibawah naungan pohon mahoni yang daun-daun keringnya mulai gugur tertiup angin. Dengan buku yang terbuka dipangkuan. Kosong. Aku ingin menuliskan sesuatu. Entah apa, aku tak tahu.

Tak terasa aku duduk disini sudah berjam-jam. Dan buku itu tetap kosong tak terisi apapun. Aku hanya mengamati daun-daun yang gugur itu. Membaui angin yang bercampur aroma tanah yang lembab. Sejuk sekali, tapi tidak menenangkan. Hatiku resah. Airmata sedari tadi seperti hendak menyeruak keluar. Namun ia tertahan, membuatku semakin sesak.

Aku rindu senja. Apa kabar ia dan jingga? Sudahkah mereka bertemu diujung petang?
Sudahkah ia kembali datang?
Memalingkan muka dari senja dan jingga. Menatap sendu ke arahku yang memandangnya dari belakang.
Apakah ini hanya khayalan atau harapan kosong yang perlahan memudar.

Kini senja itu datang tanpa jingga. Angin kembali meniupkan aroma tanah yang lembab. Perlahan diikuti aroma hujan. Mendung. Mataku memburam. Hujan itu menitik dipipiku. Bukan di tanah yang lembab.

Buku itu akhirnya terisi. Bukan dengan tulisan yang kumaksudkan. Tapi dengan genangan rindu yang menitik turun setetes demi setetes. Akankah ia tau. Akankah ia mengerti.

Senja tak selamanya berwarna jingga. Senja juga datang bahkan saat langit mendung. Murung.

Rindu. Pada ia yang tak akan pernah lagi bertemu dibawah senja yang jingga.