Sampai sejauh mana aku akan bertahan. Sampai sejauh mana aku akan memperjuangkanmu. Sampai kapan aku akan menunggumu. Entah sejak kapan kamu trlah jadi tituk fokusku. Entah sejak kapan setiap perkataanmu menjadi magnet untukku.
Taukah kamu, aku melakukan hal yang dulu ku abaikan karenamu. Tapu sudahkah kau menilai berhasilkah aku. Sudahkah kau memujiku. Ah, aku lupa bahwa kau tak tahu aku melakukan semua itu untukmu.
Katamu, aku harus bersabar jika ingin bersamamu. Tapi sudahkah kau berusaha dekat denganku.
Semua kulakukan tanpa mengeluh. Tapi itu dulu. Sekarang, banyak pertanyaan yang timbul dalam benakku. Sudahkah semua usahaku membuahkan hasil. Sudahkah aku bisa menarik perhatianmu.
Aku tak ingin mendengar jawabannya. Dan aku malas bertanya.
Minggu, 26 April 2015
Jumat, 24 April 2015
Selamat pagi kamu yang ajaib. Kamu yang punya senyum sehangat mentari pagi. Kamu yang merengkuh embun dalam dekap nafasmu. Kamu yang membuatku bersyukur karena mengenalmu. Kamu, iya, kamu.
Selamat pagi.
Semoga kamu seceria pagi ini.
Semoga kamu bisa tersenyum menyemangati hari ini.
Semoga kicauanmu menambah semaraknya hari.
Selamat pagi kamu yang aku sayangi.
Entah kenapa aku begitu yakin akan perasaanku padamu. Entah kenapa aku tak ingin jauh darimu. Tapi aku juga tak ingin memaksamu. Mungkin, dulu kau lebih mencintai sahabatku. Dia yang tak perlu berusaha sudah bisa mendapat perhatianmu. Sedang aku berusaha mati-matian hanya agar kau menatapku.
Cemburu. Itulah rasaku untuk kalian dulu. Kini aku begitu egois. Kusakiti sahabatku yang merelakanmu untukku. Karena kau ingin aku menunggumu dengan sabar.
Sudah sejauh ini aku melangkah. Sudah sejauh ini yang kulakukan. Dan sekarang aku mengikhlaskanmu. Jikalau aku akhirnya tak bersamamu, aku tak mengapa. Setidaknya, aku sudah berusaha. Kehilangan yang berharga.
Jika apa-apa yang kulakukan adalah salah, maka aku memang bersalah. Tapi ini aku. Ini keputusanku. Sekarang, saatnya aku menjalani konsekuensinya. Untukku dan hidupku.
Rabu, 22 April 2015
Ku sambut pagi ini dengan senyuman. Dengan keyakinan. Dengan doa. Dengan harapan. Dengan rasa percaya. Dengan atau tanpamu disisiku.
Semoga jika kamu yang terbaik buatku. Jika dari tulang rusukmu lah aku diciptakan. Kamu akan semakin dekat denganku. Jika aku adalah perempuan yang di takdirkan untuk menjadi tempatmu bersandar, kita akan menjadi lebih akrab.
Tapi jika semua itu hanya sekedar harapan. Tak apa, kita akan tetap baik-baik saja. Menjadi dua orang yang saling mengenal, mendukung, menyemangati.
Tetap saling bertegur sapa, bertukar kelakar, berbagi senyuman.
Selamat pagi untukmu. Semoga kita menjadi lebih baik hari ini.
Kutitipkan kasih sayang ku padamu melalui doa.
Aku sudah mengatakannya. Memgatakan apa yang perlu aku katakan. Hal yang kusimpan sendiri selama ini. Hal yang menjadi rahasiaku tentang kamu. Kamupun berhak tahu bahwa aku menyayangimu.
Katamu, akan lebih baik jika kamu tak tahu. Karena dengan begitu kita akan tetap bisa berteman tanpa kamu harus takut aku terlalu berharap.
Bagiku, mengatakan rasa itu saja sudah cukup. Aku tak menuntut ikatan padamu. Aku hanya ingin berada disisimu, menemani lelahmu, menjadi penyanggah resahmu, menjadi sandaran sepimu.
Hanya sebatas itu. Aku hanya berharap agar kita baik-baik saja. Tidak menyakiti satu sama lain. Saling menjaga dan menyemangati. Walau pada akhirnya kamu bukan untukku. Aku tak mengapa. Karena beginilah caraku menyayangimu.
Senin, 20 April 2015
Mengapa aku bisa negitu jujur padamu tentang perasaanku. Padahal aku tak yakin bahwa kaupun menyimpan rasa yang sama untukku. Aku ingin kau tau bahwa rasa ini serius untukmu. Jika kau ingin aku menunggumu, maka aki akan menunggumu dengan sabar. Tapi jika kau ingin aku pergi, maka aki akan pergi. Aku hanya akan menjauh jika kau ingin aku pergi sejauh mungkin darimu. Tapi jangan mengharapkanku untuk lepas perhatian darimu, karena aku sendiripun tak bisa mengontrol rasaku untukmu.
Bisakah kita tetap bersama?
Ah, mana bisa kita tetap bersama, mana mungkin, kita tak pernah bersama-sama sebelum ini.
Aku berjalan begitu jauh ketika menghampirimu. Sangat jauh, hingga aku mengabaikan apa-apa yang ada di sekitarku. Aku memang lelah, tapi aku berjalan tanpa henti.
Bisakah, aku tetap berjalan tanpa melukai siapapun lagi.
Aku sudah begitu jujur padamu. Sekarang semua kuserahkan pada takdir. Biar Tuhan yang menuntun jalan kita selanjutnya.
Aku sayang kamu, Cung.