Aku berusaha, aku belajar, belajar mengerti perasaan mereka, belajar memahami keinginan mereka. Tapi mengapa apa yang kulakukan dengan suka rela malah sekarang menjadi berat. Bukan karena tak di hargai, tapi karena aku diragukan. Saat belajar memahami perasaan mereka, saat itu aku juga belajar untuk melawan diriku sendiri, sifatku.
Aku ingin mengeluh, mengapa mereka tak mengerti bahwa melawan diri sendiri itu sulit.
Tapi tak perlu mereka tahu. Tak perlu aku mengeluh. Biar kusimpan saja keluh kesah ini sendiri.
Marah juga sudah tak bisa. Aku malas. Biar aku mengerti mereka. Biar aku lanjutkan belajarku. Sakitku milikku. Semoga tak menyakiti mereka.
Minggu, 03 Mei 2015
Hari ini aku mulai meresapi semua yang mereka katakan tentang penantian. Mereka bilang jangan pernah menunggu orang yang tak menghargaiku. Jangan berjuang jika dia tidak memperjuangkanku. Dulu, aku hanya berfokus untuk berusaha. Aku hanya berfokus bagaimana caranya agar bisa mengerti, melengkapi dan membahagiakannya. Padahal dia sendiripun sudah menegaskan bahwa aku bisa pergi, bahwa aku bisa menjauh, bahwa aku boleh meninggalkannya. Dia juga yang mengatakan bahwa dia tak cukup baik untukku. Bahwa dia memiliki banyak kekurangan, bahwa dia tak layak untukku. Saat itu aku sangat yakin bahwa manusia bisa berubah, begitu juga dengannya. Aku yakin bahwa suatu hari nanti hatinya akan luluh untukku. Suatu hari nanti dia akan memandangku dengan sepenuh hati. Tapi nyatanya, dia semakin hari semakin membuatku bingung.
Katanya, aku harus bersabar jika ingin mendapatkannya. Dia bersikap manis untuk menanggapi perhatianku. Tapi, di lain hari dia tak membalas pesanku. Tidak mengacuhkanku. Berhenti meresponku.
Kadang aku merasa jenuh. Kadang aku sebal. Tapi aku tak ingin marah padanya. Karena ini soal hatiku. Tentang rasaku. Aku tak bisa memaksakan kehendakku padanya. Semakin ia di desak, dia tak akan bahagia. Jika sudah begitu, bagaimana aku bisa bahagia? Sekarang, aku belajar ikhlas. Belajar merelakan dia. Belajar menerima kenyataan.
Masih tahap belajar.
Sampai tiba saatnya aku di uji dengan hal yang sama.
Jika tiba waktunya, aku akan tahu bagaimana caranya harus bersikap.
Sabtu, 02 Mei 2015
Pada saat" tertentu, aku lelah dengan semua yang kujalani. Tapi di saat yang lain, aku merasa memang sudah seharusnya aku berjalan di jalan ini. Aku kehilangan, benar. Aku berubah, itu juga benar. Aku berjuang sendirian, memperjuangkan seseorang yang aku tak tahu apakah dia juga mempertimbangkanku. Atau setidaknya menghargai usahaku.
Sedikit demi sedikit, pesan ku mulai terbalas. Tapi disaat yang sama aku merasa kosong. Entah apa, entah bagaimana, kekosongan itu hadir begitu saja.
Aku menyayanginya. Aku mengkhawatirkannya. Aku tak memaksa dia melakukan hal yang sama. Tapi sisi egoisku berkata bahwa seharusnya dia mengerti. Tapi pengertianpun tak bisa dipaksakan.
Lalu, aku menjadi seperti ini. Merasa khawatir sendirian. Bergumam doa agar dia tenang. Berbagi kisah agar aku tak terbebani. Disinilah aku sekarang, disudut hatiku, memperhatikan sekitar dan perasaan yang telah ku curahkan. Memutuskan akankah aku berlari lagi, meninggalkan masalah seperti sebelumnya. Aku masih diam, menunggu hatiku memutuskan.
Entah mengapa aku seperti kehilangan jati diri. Berubah menjadi seseorang yang baru. Namun kehilangan diriku yang lama.
Tapi bukankah itu maksud dari perubahan, bahwa kita menjadi baru dengan meninggalkan yang lama. Tapi sekarang aku sadar, berubah tak harus menghilangkan segala sesuatu yang lama.
Ada kalanya aku merindukan diriku yang lama. Ceria, tanpa beban saat orang lain menghujat, tak pernah merasa sendiri meski tak punya teman.
Lebih dari itu, aku rindu hidup bebas. Bebas menjadi siapa aku. Bebas tanpa perlu repot mengurusi orang lain.
Tapi manusia berubah. Dan berubah itu pasti.
Minggu, 26 April 2015
Sampai sejauh mana aku akan bertahan. Sampai sejauh mana aku akan memperjuangkanmu. Sampai kapan aku akan menunggumu. Entah sejak kapan kamu trlah jadi tituk fokusku. Entah sejak kapan setiap perkataanmu menjadi magnet untukku.
Taukah kamu, aku melakukan hal yang dulu ku abaikan karenamu. Tapu sudahkah kau menilai berhasilkah aku. Sudahkah kau memujiku. Ah, aku lupa bahwa kau tak tahu aku melakukan semua itu untukmu.
Katamu, aku harus bersabar jika ingin bersamamu. Tapi sudahkah kau berusaha dekat denganku.
Semua kulakukan tanpa mengeluh. Tapi itu dulu. Sekarang, banyak pertanyaan yang timbul dalam benakku. Sudahkah semua usahaku membuahkan hasil. Sudahkah aku bisa menarik perhatianmu.
Aku tak ingin mendengar jawabannya. Dan aku malas bertanya.
Jumat, 24 April 2015
Selamat pagi kamu yang ajaib. Kamu yang punya senyum sehangat mentari pagi. Kamu yang merengkuh embun dalam dekap nafasmu. Kamu yang membuatku bersyukur karena mengenalmu. Kamu, iya, kamu.
Selamat pagi.
Semoga kamu seceria pagi ini.
Semoga kamu bisa tersenyum menyemangati hari ini.
Semoga kicauanmu menambah semaraknya hari.
Selamat pagi kamu yang aku sayangi.
Entah kenapa aku begitu yakin akan perasaanku padamu. Entah kenapa aku tak ingin jauh darimu. Tapi aku juga tak ingin memaksamu. Mungkin, dulu kau lebih mencintai sahabatku. Dia yang tak perlu berusaha sudah bisa mendapat perhatianmu. Sedang aku berusaha mati-matian hanya agar kau menatapku.
Cemburu. Itulah rasaku untuk kalian dulu. Kini aku begitu egois. Kusakiti sahabatku yang merelakanmu untukku. Karena kau ingin aku menunggumu dengan sabar.
Sudah sejauh ini aku melangkah. Sudah sejauh ini yang kulakukan. Dan sekarang aku mengikhlaskanmu. Jikalau aku akhirnya tak bersamamu, aku tak mengapa. Setidaknya, aku sudah berusaha. Kehilangan yang berharga.
Jika apa-apa yang kulakukan adalah salah, maka aku memang bersalah. Tapi ini aku. Ini keputusanku. Sekarang, saatnya aku menjalani konsekuensinya. Untukku dan hidupku.
Rabu, 22 April 2015
Ku sambut pagi ini dengan senyuman. Dengan keyakinan. Dengan doa. Dengan harapan. Dengan rasa percaya. Dengan atau tanpamu disisiku.
Semoga jika kamu yang terbaik buatku. Jika dari tulang rusukmu lah aku diciptakan. Kamu akan semakin dekat denganku. Jika aku adalah perempuan yang di takdirkan untuk menjadi tempatmu bersandar, kita akan menjadi lebih akrab.
Tapi jika semua itu hanya sekedar harapan. Tak apa, kita akan tetap baik-baik saja. Menjadi dua orang yang saling mengenal, mendukung, menyemangati.
Tetap saling bertegur sapa, bertukar kelakar, berbagi senyuman.
Selamat pagi untukmu. Semoga kita menjadi lebih baik hari ini.
Kutitipkan kasih sayang ku padamu melalui doa.
Aku sudah mengatakannya. Memgatakan apa yang perlu aku katakan. Hal yang kusimpan sendiri selama ini. Hal yang menjadi rahasiaku tentang kamu. Kamupun berhak tahu bahwa aku menyayangimu.
Katamu, akan lebih baik jika kamu tak tahu. Karena dengan begitu kita akan tetap bisa berteman tanpa kamu harus takut aku terlalu berharap.
Bagiku, mengatakan rasa itu saja sudah cukup. Aku tak menuntut ikatan padamu. Aku hanya ingin berada disisimu, menemani lelahmu, menjadi penyanggah resahmu, menjadi sandaran sepimu.
Hanya sebatas itu. Aku hanya berharap agar kita baik-baik saja. Tidak menyakiti satu sama lain. Saling menjaga dan menyemangati. Walau pada akhirnya kamu bukan untukku. Aku tak mengapa. Karena beginilah caraku menyayangimu.
Senin, 20 April 2015
Mengapa aku bisa negitu jujur padamu tentang perasaanku. Padahal aku tak yakin bahwa kaupun menyimpan rasa yang sama untukku. Aku ingin kau tau bahwa rasa ini serius untukmu. Jika kau ingin aku menunggumu, maka aki akan menunggumu dengan sabar. Tapi jika kau ingin aku pergi, maka aki akan pergi. Aku hanya akan menjauh jika kau ingin aku pergi sejauh mungkin darimu. Tapi jangan mengharapkanku untuk lepas perhatian darimu, karena aku sendiripun tak bisa mengontrol rasaku untukmu.
Bisakah kita tetap bersama?
Ah, mana bisa kita tetap bersama, mana mungkin, kita tak pernah bersama-sama sebelum ini.
Aku berjalan begitu jauh ketika menghampirimu. Sangat jauh, hingga aku mengabaikan apa-apa yang ada di sekitarku. Aku memang lelah, tapi aku berjalan tanpa henti.
Bisakah, aku tetap berjalan tanpa melukai siapapun lagi.
Aku sudah begitu jujur padamu. Sekarang semua kuserahkan pada takdir. Biar Tuhan yang menuntun jalan kita selanjutnya.
Aku sayang kamu, Cung.
Jumat, 06 Maret 2015
katamu, kamu tidak sempurna.
bukan orang yang baik.
bukan lelaki yang pantas di banggakan.
katamu, bisa saja kita bersama, mencoba semuanya dari awal.
tapi aku melihat keraguan terpancar dari matamu.
cerminan dari keraguanku sendiri.
kini semua orang memintaku untuk menjauhimu.
aku tahu mereka peduli padaku.
aku tahu mereka tak ingin engkau mempermainkanku.
dan karenamu pula aku jauh dari sahabatku.
sekarang aku harus apa?
bagaimana menurutmu?
banyak sekali yang berteriak di kepalaku.
menyuarakan pendapat mereka masing-masing.
katamu, banyak sifat buruk yang melekat padamu.
tidakkah kau tahu bahwa aku pun juga begitu.
setiap orang tidak sempurna.
setiap kesalahan bisa di perbaiki.
dan dari kata-kata mu aku justru tidak membencimu,
dari pengakuanmu aku justru lebih ingin mengenalmu.
apa salahnya menyesal setelah mencoba.
apa salahnya gagal di saat-saat terakhir.
dan aku tak ingin berhenti sekarang.
aku sudah terlanjur melangkah sejauh ini.
akan ku dengarkan nasihat orang.
akan ku cerna baik-baik sebelum aku putuskan akan mengikutinya atau tidak.
yang jelas aku ingin berusaha sekarang.
berusaha mengenalmu lebih baik.
berusaha meyakinkanmu bahwa aku bisa.
kita bisa menjadi lebih baik.
berusaha memperjuangkanmu sebelum ini semua berakhir.
itu yang ku anggap penting sekarang.
semoga kamu bisa mengerti keputusanku.
Kamis, 19 Februari 2015
Aku ingin tahu. Sangat ingin tahu. Tapi semua itu melelahkanku. Seperti harus berpikir ekstra saat ujian.
Seharusnya me3nyayangimu saja sudah cukup dan tak seharusnya aku merasa lelah. Itu jika kau mengerti. Jika kau membalas perasaan ini dan tak membiarkanku jatuh terlalu dalam.
Tahukah kamu, meskipun ini melelahkan, meskipun semua perasaan ini harus ku tanggung sendiri aku bahagia. Setiap senyummu selalu membawa hangat dalam hatiku. Setiap perlakuan manismu selalu melambungkan hatiku. Setiap kali aku ragu, hatiku selalu meyakinkanku untuk kembali kuat untuk menyayangimu.
Jadi, kuputuskan untuk menjalani saja lelah ini. Mungkin nanti, ketika aku sudah benar-benar tak mampu akan ada seseorang yang menopangku dan kembali membuatku kembali tegak dan tersenyum lebar.
Mungkinkah orang itu kamu?
Entahlah. Aku tak tahu. Mari jalani semua perasaan ini sampai akhir. Agar aku tahu siapakah orang yang akan memperlakukanku seperti aku memperlakukanmu sekarang.
Sabtu, 14 Februari 2015
Karena kamu.
Tanpa banyak bertanya kau hadir dalam hidupku.
Kamu..
Awalnya aku hanya memandangmu dari jauh.
Bagiku kau hanya orang asing di seberang jangkauanku.
Kemudian, kau mendekat.
Masuk dalam area jangkauanku.
Hatiku berdesir.
Perutku di penuhi ratusan kupu-kupu yang beterbangan ketika kau menyibakkan rambutku.
Tanganku menghangat tepat saat kau menggenggam jemariku.
Kamu hadir dalam diam.
Membawakan derai tawa.
Membawakan segenggam luka.
Membawakan secangkir rasa cemburu.
Hingga membuatku terswnyum malu-malu.
Aku bertahan.
Terluka.
Cemburu.
Berbalik.
Kembali.
Dan tersenyum.
Karena kamu.
Aku mendekat, kamu menjauh.
Aku menjauh, kamu mendekat.
Aku bertahan, kamu tak acuh.
Aku berpaling, kamu buat aku kembali luluh.
Kini hatiku tak lagi bergetar.
Tapi bibirku menyunggingkan senyum.
Kini sentuhanmu tak lagi meninggalkan jejak di kulitku.
Tapi aku tersipu.
Aneh memang, ketika aku ingin menjauh, perasaan itu menahanku.
Bodoh.
Mungkin begitulah aku sekarang.
Tapi, akan kunikmati rasa ini sendirian.
Tersenyum karenamu.
Tersipu karena perlakuanmu.
Dan terluka karena tahu kau tak akan pernah jadi milikku.
Begitulah aku, karenamu.
Karena kamu penghuni hatiku.