Jumat, 30 September 2011

Tentang Cinta (sebuah cerita)

 Aku kembali ke tempat ini, tempat dimana aku suka menyendiri. Menurutku disini aku bisa bercerita pada angin tentang perasaanku. Aku bisa terlelap dan melanjutkan tiap mimpi yang selalu temani tidurku di tempat ini. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Tapi apa yang ingin aku katakan. Aku tak tahu harus berkata apa. Kini dia ada dihadapanku, tapi aku hanya membisu. Sudahkah aku mengatakan cintaku padanya jika selama ini aku hanya bisa diam saja. Aku merasa ada yang menetes dipipiku. Tak kusadari air mataku mengalir begitu saja. Tapi kenapa aku menangis. Bahkan aku tak tahu apa alasanku untuk menitikan air mata.
Kurasakan tangan itu begitu lembut mengusap pipiku, menghapus titik-titik air mata yang liar membasahinya. Dan dia bertanya, "Mengapa kau menangis? Apa aku yang telah membuatmu menangis?". Aku hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaannya atau bahkan menyalahkannya tentang tangisku jika aku saja tak tahu mengapa aku menangis.
Aku telah lama mengenal orang yang kini ada di hadapanku ini. Pemuda tampan dengan tatapan mata coklatnya yang teduh. Namun entah mulai kapan aku menyukainya lebih dari sekedar persahabatan. Benarkah ini lebih dari persahabatan? Aku terus menerus menanyakan hal itu pada diriku sendiri. Tapi aku tak bisa memastikannya pada hatiku. Apakah dia merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, aku tak ingin merusak persahabatan kami. Aku semakin tersedu-sedu dalam tangisku. Dan dia semakin bingung melihatku seperti ini.
"Mengapa kau seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Kumohon ceritakan padaku, jangan membuatku ketakutan karena harus melihatmu gundah seperti ini"
Dan skali lagi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Oh.. Tuhan, orang macam apa aku ini yang akan menyakiti hatinya jika kuungkap perasaanku. Mengapa hatiku segundah dan segalau ini. Tak kusadari aku tertidur dalam tangisku. Hingga kemudian muncullah mimpi itu.
Aku memimpikan dia, sahabatku sekaligus orang yang aku cinta. Aku memimpikan tentang bagaimana awal pertemuan kami dan kisah-kisah yang kami lalui bersama. Aku bertemu dengannyna saat hari pertamaku di SMP. Dia sekelas denganku dan menjadi teman sebangkuku. Dia seseorang dengan perasaan yang paling indah yang kurasakan. Dia selalu menjadi orang yang ceria, dengan senyumannya yang begitu renyah dan menghipnotis orang lain. Siapapun akan merasa nyaman berada didekatnya. Dan akan ikut merasakan saemangatnya yang menggebu. Dia seperti orang yang hidup tanpa beban sedikitpun dihatinya. Dia akan selalu ada untukku, saat aku menangis, terutama saat aku sedang merasa bahagia. Menurutnya, senyumanku adalah bahagianya dan tangisanku adalah kesedihannya. Jadi sebagai seorang sahabat dia akan selalu menemaniku menagis dan tertawa. Sekian lama aku menjadi kawannya, aku tahu semua sifat baik dan buruknya. Hingga suatu hari aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku saat aku berada di dekatnya. Hatiku bergetar saat melihat senyumannya. Jantungku bertalu-talu setiap dia menyebut namaku. Awalnya aku merasa hal-hal semacam itu bukanlah hal yang perlu untuk dipikirkan, tapi ternyata semakin hari perasaan itu semakin menjadi-jadi. Senyumnya, tatapan matanya, bisikan suaranya, semua yang ada pada dirinya semakin membuatku gila. Aku tak yakin kalau ini cinta. Aku merasa sakit saat dia melabuhkan cintanya untuk orang lain. Bunga-bunga yang selalu dia bawa, dia bilang bunga itu untuk orang yang dikasihinya. Setiap puisi yang dia ciptakan itu untuk orang yang disayanginya. Surat-surat cinta yang selalu dia tulis dengan penuh ketulusan hanya untuk pujaan hatinya. Dan aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, siapakah dia yang begitu beruntung menerima cinta kasih dari sahabatku ini. Bibirku tersenyum, tapi hatiku menangis. Apa yang harus aku lakukan, bersikap biasa selayaknya seorang sahabat yang selama ini dia kenal. Atau terluka selayaknya seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku kembali menitikan air mata, aku kembali menangisi yang terjadi. Tangisku untuk cinta yang tak seharusnya terjadi.
Lalu aku mendengar bisikkan yang lembut itu.
"Janganlah kau menangis dan terluka sendirian. Percayalah pada hatimu saat tak ada lagi orang yang bisa kau percaya. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Akan selalu ada yang berusaha menjaga hatimu meskipun kau tak tahu. Takdirmu takkan berubah jika kau tak berusaha merubahnya menjadi lebih baik. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Karena akan ada seseorang yang akan lebih tersiksa saat melihat hatimu hancur."
Kubuka mataku saat bisikan itu perlahan berubah jadi isak tangis. Ada yang menangis disampingku, terisak. Ternyata dia, sahabatku, cintaku. Dia yang menangis di sebelahku. Aku beranikan diri untuk bertanya padanya.
"Mengapa kau menangis, adakah yang telah melukai hatimu"
"Yeah, aku menangis karena melihat hatimu hancur seperti ini. Karena aku melihatmu begitu terluka karena memendam deritamu sendirian."
Jawabannya membuatku tak bisa berkata-kata, aku hanya bisa diam saja. Setelah sekian lama keheningan itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang kurasa.
"Tolong dengarkan aku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aku melanjutkan kata-kataku sebelum dia mengatakan sesuatu. "Aku memendam perasaan yang lebih dari sekedar persahabatan padamu. Aku terluka saat mengetahui kau melabuhkan cintamu untuk gadis lain. Aku tak ingin merusak persahabatan kita yang sudah kita jalin sejak lama jika aku ungkapkan perasaanku padamu. Atau membuatmu tak ingin mengenalku dan menjauhiku. Aku takut kau menghilang jika aku berkata-kata, maka aku putuskan untuk menyimpan perasaan ini sendirian, juga semua luka yang kurasakan karena kecewa tak dapat ungkapkan ini padamu."
Kuungkapkan semua yang terlintas difikiranku saat itu. Namun dia hanya diam saja mendengar penuturanku. Tanpa kata, hanya keterkejutan yang kulihat membingkai wajahnya saat ini. Lalu kemudian kurasakan kehangatan dekapan tangannya. Kelembutannya saat mengecup puncak kepalaku. Tuhan... dia sedang memelukku, mendekapku dengan kehangatan tubuhnya.
"Jadi itu yang kau rasakan selama ini. Jadi karena ini kau terluka dan mencoba untuk menghindariku. Dasar bodoh, kau pikir aku mencintai orang lain. Kau pikir bunga, puisi dan surat cinta itu untuk orang lain." Aku hanya tertegun mendengarnya bicara, aku tak mengerti kata-katanya. Apa yang sebenarnya dia maksudkan.
"Apa kau tak pernah membuka lokermu. hhe."
Aku semakin tak mengerti dengan kata-katanya, namun aku tetap menjawab pertanyaannya. "Sudah dari awal semester tahun lalu aku tak pernah menggunakan loker sekolah. Karena kupikir buku-bukuku bisa ku bawa pulang karena tak terlalu memberatkan."
Tapi mendengar jawabanku dia malah tertawa. "Pantas saja kau tak pernah tahu apa isinya."
"Maksudmu?"
"Renata Annabelle. Sahabatku, semua bunga, puisi dan surat cintaku hanya kuberikan untukmu seorang. Tahukah kau saat aku katakan senyummu adalah bahagiaku dan tangismu adalah sedihku, saat itu aku ingin menjagamu agar tak terluka. Karena aku tak mau ada orang yang menyakiti seseorang yang aku cintai, orang yang paling berharga dalam hidupku."
Kini semuanya terasa sangat jelas, kini aku mengerti apa yang dikatakannya. Dia mencintaiku, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Dan gadis yang beruntung menerima kasih tulusnya itu ternyata adalah aku.
"Jadi kau mencintaiku?"
"Tentu saja, bahkan lebih dari yang sekedar kau harapkan. Jadi sekarang maukah seorang Renata menerima cintaku."
"Ray Saputra, tentu dengan senang hati aku akan menjaga hati dan cintamu."
"Terima kasih." Dan dia kembali memelukku dengan erat.
Aku menyadari satu hal. Bahwa cinta yang tulus itu harus diungkapkan, bukan untuk dipendam sendirian. Apapun jawabannya nanti bukanlah penghalang kita untuk ungkapkan cinta. Karena takkan ada yang tahu tentang sebuah akhir, jika tidak memulai dari awal.

Ray Saputra
Dia disini, ditempat favoritnya untuk menyendiri. Dibukit yang biasa lami datangi saat kami merasa galau, sedih, bahkan saat kami ingin mengungkapkan kegembiraan. Tapi hari ini dia bebeda, matanya yang biasanya penuh dengan keceriaan hari ini terklihat begitu sendu. Kemudian aku melihat kilau air mata di ujung matanya. Aku bertanya mengapa dia menitikan air mata. Tapi hanya gelengan kepala yang ku terima sebagai jawaban.
Siapa yang melukai pujaan hatiku. Siapa yang melukai permata jiwaku. Lalu ku lihat ia semakin tersedu dalam tangisannya. Dia tertidur dalam pelukkanku. Dia kelelahan karena menangis seperti itu. Tidurnya terlihat tenang. Tapi kerutan diantara matanya tak mau hilang. Keheningan membuatku takut, mungkinkah dia pingsan dan bukannya tertidur. Lalu aku melihat bulir-bulir bening air mata membasahi pipinya. Dia menangis dalam tidurnya. Seberat apa luka yang dipendamya. Kubisikkan kata-kata itu di telinganya, karena aku terlalu khawatir padanya
"Janganlah kau menangis dan terluka sendirian. Percayalah pada hatimu saat tak ada lagi orang yang bisa kau percaya. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Akan selalu ada yang berusaha menjaga hatimu meskipun kau tak tahu. Takdirmu takkan berubah jika kau tak berusaha merubahnya menjadi lebih baik. Jangan kau menangis dan terluka sendirian. Karena akan ada seseorang yang akan lebih tersiksa saat melihat hatimu hancur." Dan tak terasa aku ikut menagis bersamanya. Ternyata tangisku membangunkannya. Dia terlihat bingung melihatku menangis. Namun kemudian dia mengungkapkan perasaannya padaku. Ternyata dia begitu terluka karena aku, karena dia kira aku mencintai orang lain. Dasar gadis bodoh, mana mungkin aku mencintai orang lain jika semua bunga, puisi dan surat-surat cintaku, ku selipkan dilokernya. Apa dia tak pernah membuka isi lokernya. Kupeluk ia seerat mungkin. Betapa bahagiannya aku mendengar penuturannya.
"Apa kau tak pernah membuka lokermu. hhe."
"Sudah dari awal semester tahun lalu aku tak pernah menggunakan loker sekolah. Karena kupikir buku-bukuku bisa ku bawa pulang karena tak terlalu memberatkan." jawabnya dengan polos dan merasa bingung akan pertanyaanku. Dan tanpa perlu menunggu reaksinya yang lain aku tertawa mendengar jawaban lugunya.
"Pantas saja kau tak pernah tahu apa isinya.""Maksudmu?" Tanyanya sembari melepaskan pelukkanku, dia mencoba mencari kejelasan dari mataku.
"Renata Annabelle. Sahabatku, semua bunga, puisi dan surat cintaku hanya kuberikan untukmu seorang. Tahukah kau saat aku katakan senyummu adalah bahagiaku dan tangismu adalah sedihku, saat itu aku ingin menjagamu agar tak terluka. Karena aku tak mau ada orang yang menyakiti seseorang yang aku cintai, orang yang paling berharga dalam hidupku."
"Jadi kau mencintaiku?"
"Tentu saja, bahkan lebih dari yang sekedar kau harapkan. Jadi sekarang maukah seorang Renata menerima cintaku."
"Ray Saputra, tentu dengan senang hati aku akan menjaga hati dan cintamu."
"Terima kasih." Kembali aku memeluknya, dan kali ini aku tak ingin melihat lagi air matanya. Aku hanya ingin melihat senyum bahagianya, disini, disisiku, selamanya.






 Epilouge_
Sungguh menyenangkan menggandeng tangannya dikoridor sekolah ini. Menyusurinya menuju kelas kami. Dan aku teringat sesuatu. Lokerku. Apa yang ada didalamnya, aku jadi penasaran.
"Sebaiknya kau ke kelas duluan." Pintaku padanya.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanyanya bingung.
"Ada sesuatu yang tertinggal. Jadi harus kuambil."
"Biar aku temani."
"Tak perlu, sudah kau duluan saja. Aku akan segera menyusul."
"Baiklah kalu kau ingin seperti itu. Jangan lama-lama yya."
"Iyya."
Setelah dia beranjak pergi aku berjalan menuju lokerku. Sudah lama aku tak membukanya. Kuputar kunci loker itu. Aku kaget melihat isinya. Ternyata begitu banyak rangkaian bunga di dalamnya. Mulai dari bunga yang masih baru hingga bunga yang sudah layu. Juga ada lembaran surat serta puisi disana. Kulihat nama pengirimnya. Dan disana tertulis namanya, Ray Saputra.


Malang,  30 September 2011
A Story by


Rulita Kurnia

Selasa, 27 September 2011

Kemarau Panjang => Like Autumn

Tahun ini kemarau lebih panjang dari tahun kemarin. Curah hujan sangat jarang, bahkan bisa dibilang tidak ada. Tapi dari kemarau ini, langit tampak biru, angin berhembus dengan lembutnya. Daun-daun dipepohonan itu tampak menguning dan sebagian berwarna coklat tua, dedaunan yang kering. Dedaunan yang rapuh, angin menghembuskan mereka begitu saja, membuat mereka meninggalkan ranting-ranting tua. Ranting-ranting rapuh yang ditinggalkan daunnya yang sejuk. Angin terasa dingin menyentuh kulit, namun mentari terasa panas menyengat kulit.
Tiap kulalui jalanan kota, ingin rasanya kupejamkan mata, menghirup udara yang kering namun sejuk, serta menikmati terpaan angin yang menyentuh kulitku dengan lembut. Kemarau ini terasa seperti musim gugur. Tentang anginnya, tentang guguran daunnya dan juga tentang udaranya yang sejuk. Didaerah tropis seperti tempat tinggalku ini, musim gugur terasa mustahil dan bahkan tidak mungkin untuk dirasakan. Tapi apa salahnya berkhayal tentang musim gugur, tentang keindahan langit senja pada musim itu, juga tentang setiap guguran daunnya.
Pejamkan matamu, berdiri dan berdiam dirilah sejenak. Nikmati terpaan angin, rasakan kelembutan sentuhannya. Keindahan hidup adalah saat kau bisa berdiam sejenak, berhenti sejenak dari rutinitasmu. Merasakan kehidupan yang hadir dalam setiap hembusan nafasmu. Menikmati setiap imajinasi tentang keindahan yang hadir di dalam fikiranmu. Kemudian kau akan merasakan bibirmu terangkat menyunggingkan senyuman. Kau juga akan merasakan kedamaian. Dan begitulah seharusnya kehidupan, saat kau bisa merasakan sejuknya menghirup nafas, indahnya berimajinasi dan begitu ringannya senyum yang kau sunggingkan. Indahnya hidup adalah seindah kita menikmatinya dengan senyum ketenangan tanpa sedikitpun beban yang terpendam dalam hatimu.

Senin, 26 September 2011

hidup itu bermimpi

saat kita diberi kesempatan untuk hidup, saat itu juga kita diberi kesempatan untuk bermimpi. setiap mimpi kita pasti punya arti tersendiri. mimpi buruk itu berarti pengajaran untuk kita, bagaimana kita akan menghindari keburukkan itu, bagaimana kita akan kembali berjuang saat mimpi buruk itu tentang kehilangan orang-orang yang begitu berarti dalam hidup kita. sedang mimpi indah itu berarti tentang apa yang kita inginkan, tentang apa yang ingin kita raih dalam hidup ini. mimpi indah itu tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. apakah kita ingin mewujudkan mimpi itu ke dalam dunia nyata. atau kita hanya akan membiarkn mimpi itu tetap seperti itu. tetap menjadi impian yang membuai kita dalam tidur, tapi menjadi penyesalan karena kita sudah terjaga dan tak dapat kembali menikmati impian itu.
kata-kata dari seseorang yang sangat kusuka adalah, tidak ada yang salah dengan mimpi, karena mimpi adalah anugerah yang membawa seseorang ke dunia tanpa batas
dan itulah mimpi, tidak membatasi seseorang tentang apa yang harus diimpikannya
terluka dan jatuh adalah cara untuk belajar tentang bagaimana caranya kembali berdiri dan berjuang. menghadapi segala situasi serta rintangan yang menghadang. jika sudah pernah jatuh maka seseorang akan bisa kembali berdiri. jika tak pernah terjatuh, maka persiapkanlah diri jika suatu saat nanti secara tak sengaja terjatuh. kemudian kembalilah berdiri, berjalanlah dan jangan pernah terjatuh lagi. namun jika memang harus terjatuh lagi, kau sudah tahu bagaimana caranya untuk kembali berdiri.
kau bukan dia dan dia bukan kau...
aku bukan dia dan dia juga bukan aku...
aku, kau dan dia, kita bebeda
aku, kau dan dia, punya dunia kita masing-masing
jangan suruh aku jadi dia
maka aku juga tak akan menyuruhmu jadi dirinya
apa artinya kita jika harus menjadi orang lain
kita tak akan punya makna
jika berubah jadi orang asing

cerita...

ku ingin menuliskan sebuah cerita, tapi aku tak punya cerita. aku ingin berbicara, tapi aku tak dapat berkata-kata. cerita cinta (sudah bosann), tentang persahabatan (aku tak mengerti), tentang hidup (aku bukan seorang bijak yang mampu ungkapkan makna hidup),,, lalu aku harus bertindak apa??
kenapa aku menulis jika aku tak punya sesuatu untuk diceritakan. kenapa aku yang harus bercerita jika aku lebih suka mendengarkan. aku ini sbenarnya kenapa? apakah aku bimbang, linglung, atau apa??
what happened to me? what's wrong? atau mungkin aku sudah gila? tergila-gila pada sebuah cerita, padahal aku sendiri tak punya sesuatu untuk diceritakan. aku hanya ingin menulis, entah apa yang akan tergores di atas kertas-kertas putih itu. akan kuikuti alunan tanganku, mengikuti tiap irama tinta biru itu. menggoreskan sesuatu di atas lembaran kertas putih. tanpa banyak berkata tanpa banyak membantah, kutuliskan semuanya hingga kudapatkan sebuah cerita. tentang mimpi... hari ini aku sudah menuliskan impianku diatas lembaran itu, lembaran yang tercoret tinta biru itu. tentang mimpiku, tentang harapanku, dan tentang masa depanku...

Till We Meet Again

" Cinta memang membingungkan. Dua laki-laki mencintai satu wanita = musibah. Satu laki-laki mencintai dua wanita = luar biasa. Satu laki-laki mencintai satu wanita = jodoh."

" Cinta adalah satu-satunya hal yang paling absurd di dunia ini. Cinta... seperti hantu. Muncul secara tiba-tiba... lenyap juga tiba-tiba."

" Cinta tumbuh karena berawal dari rasa tertarik. Ada kalanya cinta tumbuh karena rasa penasaran. Yang lebih parah, ada rasa cinta yang tumbuh karena rasa benci. Namun, ada kalanya cinta tumbuh karena rasa malu."


Till We Meet Again. Sebuah novel yang akan membuat pembacanya merasa yakin akan keberadaan takdir. Bahwa dari awal takdir telah mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Sejauh apapun jarak yang memisahkan mereka atau rintangan yang harus mereka hadapi sebelum mengetahui tentang kebenaran yang sudah lama mereka impikan. Tentang cinta yang sudah lama mereka rasakan, bahkan sebelum mereka mengereti tentang apa itu cinta. Cinta selalu punya jalan. Jalan cinta adalah takdir. Takdir yang mutlak tentang jodoh, dan yang tak akan mungkin bisa dipungkiri.

Sabtu, 24 September 2011

it's time to be a girl


Just one day...
Apa salahnya jadi cewe kayak yang lain. Pake' rok, rambut di tata rapi, pake' gelang and sendal yang sedikit feminin. Meskipun pake' yang seperti itu ribet, dan bukan gayaku. Aku emang lebih suka pake' hem, jins dan sepatu catz. Tapi secowo apapun aku, aku tetep aja cewe, ada saat dimana aku pengen banget pake' rok dan nata rambut sekeren mungkin. Aku suka nata.in rambut temen-temenku, mereka sering minta tolong ditatain rambutnya saat jam kosong atau pas lagi jam istirahat. Dan karena sering nata rambut orang lain, aku jadi pengen nata rambut kayak gitu, tapi apesnya gak ada yang bisa nata.in rambutku (kecewa berat).
Gak jarang aku nata sendiri rambutku, dengan style ku sendiri. Aku kurang suka meniru style orang lain kalau aku pikir itu gak cocok buatku. Kalau menurutku cocok, yya apa salahnya ikutin trend orang lain. Aku juga punya banyak gelang. Rata-rata aku koleksi gelang karena warnanya hijau (my favorite color). Semua gelangku akhirnya bernasib sama, cuma jadi barang koleksi yang gak pernah kepake'. Gak cuma gelang yang gak pernah kepake', tapi ada juga jepitan rambut. Lucu-lucu sichh, alasannya beli yya kayak gelang tadi (karena warnanya hijau).
Hari ini, aku lagi pengen jadi cewe. Pake' rok, gelang, sendalnya para ladies, dan nata rambut degan model favoritku. Hari ini sehari jadi cewe beneran. Cuma sehari?? Paling-paling tar sore juga udah berubah jadi cowo lagi (???) pake' celana pendek dan kaos biasa.
Bodo' amatlah, yang penting itu diriku sendiri. Tomboy (bisa dibilang seperti itu), tapi kadang juga ladies banget. Apapun gayanya asalkan nyaman kenapa engg' untuk dipake'.
Dan.... YANG PENTING HAPPY!!! (DJARUM 76) hhahhahhaa :))

do'a yang sama

aku dan dia memiliki do'a yang sama akan kehidupan kami, akan hati kami::
"Jika kami tak dapat saling memiliki, tak bisa saling menemani, tak bisa berada dalam hatinya lagi, tak bisa saling menjaga, Tuhan tolong jauhkanlah kami, hapuslah fikiran dan perasaan tentang kami satu sama lain...
..jangan pertemukan kami lagi, agar kami tak saling merindukan. Tapi jika kami memang kau takdirkan untuk bersama, tolong lancarkanlah hubungan kami"

Jumat, 23 September 2011

kutipan buku

Refrain-Winna Efend
plain melodies
simple guitar chords
your humming to my songs
lirycs of the heart
...and the rhymes of the moon
make the best night music
night music
that belongs to you and i


Wuthering Heights-Emily Bronte

If all else perished, and he remained,
I should still continue to be
and if all else remained, and he were annihilated
the universe would turn to a mighty stranger:
I should not seem a part of it.


and i said:
 "if you love someone, do the best for him,
if you hurt 'cause it keep smiling and don't ever give up,
life must go on" 

Senin, 19 September 2011

Pesanku untuk Seseorang

Kau mencintaiku dengan sepenuh hati. Kau hormati keputusanku yang ingin meninggalkanmu di sini. Tapi kau pendam semua lukamu sendiri. Begitu besar rasa yang kau beri. Begitu berharapnya kau agar aku kembali. Tolong jangan siksa dirimu seperti ini. Jangan lukai hatimu lagi. Aku tak bisa memberimu janji untuk kembali. Aku tak ingin membuatmu semakin berharap akan hal ini. Sungguh kau telah bertahan sampai sejauh ini.
Tapi nanti saat kau sudah tak sanggup lagi menanti dan bertahan disini, kau bisa berpaling dan pergi. Nanti saat ada seseorang yang bisa membawamu dalam bahagia. Yang bisa membalas cinta kasihmu dengan setia. Kau bisa pergi dan bahagia bersamanya, saat menunggu sudah tak lagi bisa membuatmu bertahan.

Sabtu, 17 September 2011

Cinta Sejati

Cinta...
Akan selalu ada yang jatuh cinta setiap harinya. Dengan sahabatnya sendiri, yang sudah dikenalnya sejak lama, yang sudah dikenal baik-buruknya. Atau jatuh cinta pada seseorang yang baru ditemui. Seseorang yang mungkin kau temui secara tak sengaja di toko buku langgananmu, di coffeeshop yang biasa kau datangi. Atau mungkin dia adalah sahabat baik kekasihmu, atau kekasih sahabatmu. Dengan siapapun kita jatuh cinta kita tak bisa memilih orangnya sesuka hati kita. Tapi cinta itu sendiri yang akan menentukan kepada siapa kita jatuh cinta. Baik cinta yang benar dan terbuka, atau cinta yang terlarang dan menyakiti. Semua tetap saja cinta.
Seperti apapun sakitnya cinta, dia akan tetap mempersatukan. Semanis apapun cinta, dia juga bisa menghancurkan hidup seseorang. Cinta akan datang saat seseorang menangis, tapi dia juga bisa membuat seseorang mengeluarkan air mata. Cinta datang membawa tawa riang, tapi dia bisa tiba-tiba pergi dan meninggalkan luka. Cinta, it's all about love. Sejauh apapun jarak yang memisahkannya. Cinta sejati, yang sudah tergariskan oleh takdir, yang dirasa dengan penuh ketulusan. Dia akan selalu menemukan jalannya untuk bersatu dengan kekasihnya. Dan dia akan dengan mudah menyingkirkan semua pesaingnya dan segala keegoisan yang memisahkannya.

Rabu, 14 September 2011

gak ada judul

Aku mengambil sebuah keputusan, keputusan yang sangat sulit untukku. Aku tak ingin menyesal akan segala sesuatu yang telah ku putuskan. Tapi mau bagaimana lagi kalau ternyata aku tak rela dengan keputusan itu. Aku masih berat hati mengakui bahwa keputusan itu telah aku ambil. Menjaga semuanya agar terlihat baik-baik saja itu sangat sulit. Apa lagi kalau harus membohongi hati nurani. Mungkin ini terlihat seperti penyesalan, tapi aku yakin aku tidak pernah menyesal sedikitpun. Seserakah itukah aku?? Tidak menginginkan apa yang telah ku lepaskan dimiliki oleh orang lain, tapi aku tak ingin memilikinya kembali. Seegois itukah aku?? Lalu monster macam apa aku, yang tidak membiarkannya bahagia, bahkan membuat diriku sendiri juga terluka. Aku ini bodoh atau apa, melukai diriku sendiri demi orang lain yang seharusnya sudah bahagia disana. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur tak bisa melupakannya, jadi yaa terima nasib saja kalau aku harus terluka.

Sabtu, 10 September 2011

Sekuntum Bunga yang Tertunda

Dia bilang dia ngasih aku bunga. Tapi bunga itu dia titipin ke satpam PG KA, titipnya hari jum'at (09/09) jam 3 pagi pula. Aku yakin satpam itu pasti udah gak ada, karena dia baru nanyain aku dapet bunganya atau enggak sekitar jam 9 pagi. Satpam itu pasti dapet giliran sift malem, dia pulang jam 5 pagi dan baru balik masih jam 9 malem. Mana mau aku kalau harus nunggu si satpam sampe' jam 9 malem cuma buat nanyain kembang. Kalau misalnya aku ambil pagi sebelum berangkat ojt atau sore sepulang ojt sich bisa-bisa aja, tapi aku malu kalau harus ngambil ke satpam itu, mau ngajak temen pasti mereka gak mau. yo weis, akhirmya gak jadi di ambil dech bunganya. Lagi pula dia juga bilang gak usah di ambil, karena kemungkinan bunganya udah di buang, atau gak satpamnya pasti gak ada. Sayang banget sich sebenernya karena gak jadi dapetin bunga itu. Coba' dia kasih langsung ke aku, pasti bakal aku simpen bunga itu baik-baik, karena bunga itu akan meanjadi sekuntum bunga pertama yang aku dapet dari seorang cowo'. Dengan berat hati kurelakan bunga itu buat satpamnya. Mungkin aja sama si satpam bunga itu akan disimpan dengan baik.. hhehhee

Rabu, 07 September 2011

Sudah Berakhir

Aku sudah mengakhirinya. Dengan sangat berat hati aku mengakhiri kisahku. Ku mulai semuanya dengan baik-baik dan akan ku akhiri dengan baik-baik. Kini aku hanya akan berteman dengannya. Aku hanya akan menjadikannya kakakku. Dia menerima itu dengan berbesar hati. Betapa sabarnya dia setelah kusakiti dia begitu dalam. Begitu sabarnya dia karena masih mau tersenyum saat aku kembali mengecewakannya. Terima kasih untuk semuanya, untuk cinta, kasih sayang, perhatian dan kesabaranmu untukku. Pengorbananmu telah menyadarkanku akan besarnya kasihmu padaku. Tapi aku tak bisa menyakitimu semakin jauh karena keraguan hatiku. Aku selalu menganggap hatiku sudah pasti memilihmu dengan penuh keyakinan, tapi nyatanya aku masih meragukan hatiku. Bukan karena aku meragukan kasih sayangmu, tapi hatiku yang meragu pada diriku sendiri. Dan jika ku lanjutkan kisah ini, itu hanya akan semakin menyakiti dan mengecewakanmu.
Maafkan aku yang tak bisa menjadi seseorang yang terbaik untukmu. Maafkan aku yang telah kembali mengecewakanmu. Kau akan selalu ada dalam hatiku. Kenanglah aku dalam hatimu, meskipun hanya sebagai orang yang kau benci. Silahkan marah dan benci padaku, akan aku terima itu karena itu memang sepenuhnya hakmu. Namun kenapa kau tak bisa membenciku, kau malah do'akan yang terbaik untukku.
Semoga kau dapatkan yang terbaik dalam hidupmu, yang akan lebih menyayangi dan membuatmu bahagia. Semoga kau bahagia. Saat kukatakan sayangku padamu itu benar-benar dari lubuk hatiku.

Awal Sebuah Kisah

Aku lalui hari-hariku seperti biasa, namun hari itu ada sesuatu yang berbeda. Ada cinta yang datang mendekat, ada seseorang yang inginkan aku jadi pendampingnya. Aku ragu, aku tak tahu harus terima cintanya atau menolaknya. Aku begitu dilema dengan hal-hal yang akan aku putuskan hari itu. Dilema melandaku dan hatiku begitu berat memutuskan  Kubertanya pada hatiku, apakah aku benar-benar menyayanginya atau hanya sekedar menganggapnya teman biasa, sama seperti yang lain.
Kufikirkan hal itu begitu kerasnya hingga aku tak dapat tidur dengan nyenyak. Semakin kufikirkan, aku semakin dilema. Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Aku tahu aku mengambil keputusan yang benar dan kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak boleh menyesali apapun tentang keputusan ini suatu hari nanti.
Sikapnya begitu manis, dengan perhatiannya yang sepele atau yang bahkan tak dia sadari hal itu telah membuatku bahagia dan tersipu. Aku sadari bahwa aku menyayanginya. Setiap hari bertambah satu tingkat dan aku takut kehilangannya, takut dia akan meninggalkanku suatu saat nanti dengan alasan apapun. Meskipun terkadang sering ada pertengkaran dikarenakan hal kecil, tapi hari itu juga pertengkaran itu dapat terselesaikan dengan tawa dan rasa sayang. Dan kebanyakan dari pertengkaran itu pasti karena aku. Aku tak pernah sakit hati saat dia marah padakku, malah aku menganggapnya hal yang lucu, hal yang bisa membuatku tertawa membayangkan raut mukanya yang jengkel karena amarah. Dan bahwa kemarahannya adalah visualisasi rasa sayangnya padaku. Hal itu malah selalu aku rindukan darinya. Dia selalu berkata-kata dengan penuh semangat saat berbicara padaku. Pembicaraan kami akan selalu terisi dengan tawa riang yang begitu membahagiakan hingga kami bisa lupa waktu saat berbicara. Dan kadang setelah pembicaraan itu akan ada pertengkaran kecil, dan lagi-lagi karena hal sepele dan karena aku.
Aku selalu merasakan ketulusan dalam setiap kata-katanya. Ketulusan akan kasih sayangnya padaku. Aku bangga pada diriku sendiri saat dia mengatakan bahwa aku adalah inspirasi dan semangatnya. Dan aku ingin tetap seperti itu saat aku masih mampu memberikan inspirasi untuknya dan menjadi penyemangat hidupnya.
Selama aku disisinya aku takut dia akan menyakitiku, tapi nyatanya malah aku yang sering menyakitinya. Sungguh aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Yang takut disakiti, malah justru yang sering menyakiti.
Dia yang pertama menyentuh hatiku begitu dekat. Dia yang pertama yang membuatku begitu tersipu karena malu. Dan dia akan selalu menjadi yang pertama, Karena dia memang seperti itu.

Selasa, 06 September 2011

Haruskah Berakhir

Haruskah ku akhiri kisah ini, kisah yang ku tak tahu kenapa buatku sakit hati. Atau itu bukan sakit hati, hanya kebimbangan yang aku alami.
Oh Tuhan....
Salahkah aku karena dulu kuterima perasaan itu. Hatiku telah yakin, namun di ragukan kembali. Aku ragu, hatiku terlalu bimbang karena tak tahu kemana lagi arah tujuan hidupku. Aku lelah harus menunggu kepastian tentang perasaan ini dari hatiku. Hatiku tak punya jawaban, lalu siapa yang akan menjawab. Aku belum yakin namun dia akan pergi meninggalkanku, sejauh mungkin dari jangkauanku. Bukan jauh dari hatiku, namun jauh dari pandangan mataku. Sampai kapan harus seperti ini. Semoga jawaban itu akan segera menghampiri hati yang tengah bimbang ini.

Senin, 05 September 2011

Akhir

Sudah kujalani keputusanku, sudah kulalui tanpa ada sesal dihatiku. Tapi aku tak pernah tahu sudahkah tak ada lagi kebimbangan di hatiku. Andai saja ada yang bisa menjawab segala tanyaku tentang apa yang membuatku ragu. Haruskah ku akhiri kisahku, kisah yang baru saja kumulai dalam hidupku. Hatiku galau, fikiranku kacau, tak dapat kuputuskan apapun untuk saat ini.
Jawab tanyaku, jika memang ada jawaban atas pertanyaan itu. Beri kepastian untukku jika memang semua keputusan telah pasti. Jika kau yakin padaku, yakinlah. Dan yakinkanlah aku akan dirimu dan ketulusanmu. Jika aku ragu akan dirimu, tetaplah bertahan disisiku hingga aku merasa memang kaulah yang terbaik untukku. Bukan yang akan menyakitiku, tapi yang akan melindungi ku dan menjaga hatiku.

Merpati

Merpati kecilku....
Sampaikanlah pesan-pesanlu pada kekasihku
Tentang segala cinta dan ketulusan hatiku
Lalu kirimkan jawaban dari kekasihku
Tentang apa yang dia rasakan untukku
Merpati kecilku....
Ajarkan aku tetang kesetiaanmu
Tentang kasihmu yang tak pernah berakhir untuk kekasihmu
Peri-peri kecil di hutan itu akan menemanimu menghantarkan kepergian kekasih hatimu ketempatnya yang abadi
Merpati kecilku....
Sampaikan rinduku pada kekasihku
Nanti di saat aku tak dapat berkata-kata lagi
Sampaikan sayangku pada kekasihku
Nanti di saat aku tak dapat bernafas lagi
Aku akan ikut pergi bersama kekasihmu
Melewati kegelapan hidup menuju alam abadi yang telah disediakan Tuhan untuk kami

Minggu, 04 September 2011

Cinta

Ketika kau datang aku tak mengenalmu
Ketika kau menyapa aku tak mempedulikanmu
Kau selalu hadir menemani hari-hari ku
Dalam sepi, dalam tangis dan dalam tawa

Aku tak mengetahui apapun tentangmu
Tapi kau begitu mengenalku,
bahkan lebih baik daripada diriku sendiri

Hingga ku sadari cinta itu
Cinta tulus yang kau berikan untukku
Tapi betapa tak beruntug dan sangat menyesalnya aku
Karena mengetahuinya disaat kau telah pergi tinggalkanku