Rabu, 07 September 2011

Awal Sebuah Kisah

Aku lalui hari-hariku seperti biasa, namun hari itu ada sesuatu yang berbeda. Ada cinta yang datang mendekat, ada seseorang yang inginkan aku jadi pendampingnya. Aku ragu, aku tak tahu harus terima cintanya atau menolaknya. Aku begitu dilema dengan hal-hal yang akan aku putuskan hari itu. Dilema melandaku dan hatiku begitu berat memutuskan  Kubertanya pada hatiku, apakah aku benar-benar menyayanginya atau hanya sekedar menganggapnya teman biasa, sama seperti yang lain.
Kufikirkan hal itu begitu kerasnya hingga aku tak dapat tidur dengan nyenyak. Semakin kufikirkan, aku semakin dilema. Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Aku tahu aku mengambil keputusan yang benar dan kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak boleh menyesali apapun tentang keputusan ini suatu hari nanti.
Sikapnya begitu manis, dengan perhatiannya yang sepele atau yang bahkan tak dia sadari hal itu telah membuatku bahagia dan tersipu. Aku sadari bahwa aku menyayanginya. Setiap hari bertambah satu tingkat dan aku takut kehilangannya, takut dia akan meninggalkanku suatu saat nanti dengan alasan apapun. Meskipun terkadang sering ada pertengkaran dikarenakan hal kecil, tapi hari itu juga pertengkaran itu dapat terselesaikan dengan tawa dan rasa sayang. Dan kebanyakan dari pertengkaran itu pasti karena aku. Aku tak pernah sakit hati saat dia marah padakku, malah aku menganggapnya hal yang lucu, hal yang bisa membuatku tertawa membayangkan raut mukanya yang jengkel karena amarah. Dan bahwa kemarahannya adalah visualisasi rasa sayangnya padaku. Hal itu malah selalu aku rindukan darinya. Dia selalu berkata-kata dengan penuh semangat saat berbicara padaku. Pembicaraan kami akan selalu terisi dengan tawa riang yang begitu membahagiakan hingga kami bisa lupa waktu saat berbicara. Dan kadang setelah pembicaraan itu akan ada pertengkaran kecil, dan lagi-lagi karena hal sepele dan karena aku.
Aku selalu merasakan ketulusan dalam setiap kata-katanya. Ketulusan akan kasih sayangnya padaku. Aku bangga pada diriku sendiri saat dia mengatakan bahwa aku adalah inspirasi dan semangatnya. Dan aku ingin tetap seperti itu saat aku masih mampu memberikan inspirasi untuknya dan menjadi penyemangat hidupnya.
Selama aku disisinya aku takut dia akan menyakitiku, tapi nyatanya malah aku yang sering menyakitinya. Sungguh aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Yang takut disakiti, malah justru yang sering menyakiti.
Dia yang pertama menyentuh hatiku begitu dekat. Dia yang pertama yang membuatku begitu tersipu karena malu. Dan dia akan selalu menjadi yang pertama, Karena dia memang seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar