Tahun ini kemarau lebih panjang dari tahun kemarin. Curah hujan sangat jarang, bahkan bisa dibilang tidak ada. Tapi dari kemarau ini, langit tampak biru, angin berhembus dengan lembutnya. Daun-daun dipepohonan itu tampak menguning dan sebagian berwarna coklat tua, dedaunan yang kering. Dedaunan yang rapuh, angin menghembuskan mereka begitu saja, membuat mereka meninggalkan ranting-ranting tua. Ranting-ranting rapuh yang ditinggalkan daunnya yang sejuk. Angin terasa dingin menyentuh kulit, namun mentari terasa panas menyengat kulit.
Tiap kulalui jalanan kota, ingin rasanya kupejamkan mata, menghirup udara yang kering namun sejuk, serta menikmati terpaan angin yang menyentuh kulitku dengan lembut. Kemarau ini terasa seperti musim gugur. Tentang anginnya, tentang guguran daunnya dan juga tentang udaranya yang sejuk. Didaerah tropis seperti tempat tinggalku ini, musim gugur terasa mustahil dan bahkan tidak mungkin untuk dirasakan. Tapi apa salahnya berkhayal tentang musim gugur, tentang keindahan langit senja pada musim itu, juga tentang setiap guguran daunnya.
Pejamkan matamu, berdiri dan berdiam dirilah sejenak. Nikmati terpaan angin, rasakan kelembutan sentuhannya. Keindahan hidup adalah saat kau bisa berdiam sejenak, berhenti sejenak dari rutinitasmu. Merasakan kehidupan yang hadir dalam setiap hembusan nafasmu. Menikmati setiap imajinasi tentang keindahan yang hadir di dalam fikiranmu. Kemudian kau akan merasakan bibirmu terangkat menyunggingkan senyuman. Kau juga akan merasakan kedamaian. Dan begitulah seharusnya kehidupan, saat kau bisa merasakan sejuknya menghirup nafas, indahnya berimajinasi dan begitu ringannya senyum yang kau sunggingkan. Indahnya hidup adalah seindah kita menikmatinya dengan senyum ketenangan tanpa sedikitpun beban yang terpendam dalam hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar