Senin, 23 Mei 2022

Senja dan Jingga

Disini aku terduduk sendiri. Disudut bangku taman dibawah naungan pohon mahoni yang daun-daun keringnya mulai gugur tertiup angin. Dengan buku yang terbuka dipangkuan. Kosong. Aku ingin menuliskan sesuatu. Entah apa, aku tak tahu.

Tak terasa aku duduk disini sudah berjam-jam. Dan buku itu tetap kosong tak terisi apapun. Aku hanya mengamati daun-daun yang gugur itu. Membaui angin yang bercampur aroma tanah yang lembab. Sejuk sekali, tapi tidak menenangkan. Hatiku resah. Airmata sedari tadi seperti hendak menyeruak keluar. Namun ia tertahan, membuatku semakin sesak.

Aku rindu senja. Apa kabar ia dan jingga? Sudahkah mereka bertemu diujung petang?
Sudahkah ia kembali datang?
Memalingkan muka dari senja dan jingga. Menatap sendu ke arahku yang memandangnya dari belakang.
Apakah ini hanya khayalan atau harapan kosong yang perlahan memudar.

Kini senja itu datang tanpa jingga. Angin kembali meniupkan aroma tanah yang lembab. Perlahan diikuti aroma hujan. Mendung. Mataku memburam. Hujan itu menitik dipipiku. Bukan di tanah yang lembab.

Buku itu akhirnya terisi. Bukan dengan tulisan yang kumaksudkan. Tapi dengan genangan rindu yang menitik turun setetes demi setetes. Akankah ia tau. Akankah ia mengerti.

Senja tak selamanya berwarna jingga. Senja juga datang bahkan saat langit mendung. Murung.

Rindu. Pada ia yang tak akan pernah lagi bertemu dibawah senja yang jingga.

Minggu, 09 September 2018

setiap manusia itu harus punya tujuan hidup, punya sesuatu yang harus bisa diraih.
kadang apa yang direncanakan memang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita.
tapi bukan berarti kita harus menyerah, bukan?
ada yang secara terang-terangan memilih jalan hidupnya dan siap menerima konsekuensi apapun atas pilihan itu meskipun dia merasa sakit dalam setiap prosesnya.
adapula yang awalnya seperti jendak berjuang dengan sungguh tapi kemudian dia berhenti bahkan saat dia belum mencoba sepenuhnya.
lelah katanya.
apa itu masuk akal?
apa itu bisa dibenarkan?
entahlah, karena buatku biar bagaimanapun juga semua kembali pada pilihan individu masing-masing, kalau mereka tak memiliki semangat untuk berjuang sekeras apapun orang-orang disekitarnya coba untuk menyemangati tak akan ada gunanya. semua akan tetap jalan ditempat. hingga akhirnya hanya penyesalan yang tertinggal.
hanya diri sendirilah motivator yang paling hebat, bukan orang lain.

Sabtu, 08 Juli 2017

Kosong. Setiap aku ingin mengisahkan tentang kita, yang tertinggal hanyalah kekosongan. Kertas putih itu tak pernah terisi dengan apapun. Tidak dengan kalimat, tidak pula dengan kata. Rasanya jari-jariku membeku, tak dapat kugerakkan. Ia terdiam, yang ada hanya sepasang mata yang memandang hampa.
Lalu, bagaimana caranya aku ingin mengisahkan tentang kita jika aku saja tak sanggup menuliskannya. Katamu, aku bisa bercerita. Namun bibirku juga membisu. Tak ada sepatah katapun yang terucap.
Kau tau, sesulit inikah menggambarkan tentang kita. Tentang apa yang sudah kita bagi. Tentang apa yang sudah kita lewati. Dan tentang semua yang telah berubah.
Mungkin semua kekosongan itu, semua kata yang tak pernah terucap itu berasal dari hatiku yang hampa. Ia membeku, kebas, tak merasakan apapun.
Aku tertegun, inikah jalan yang harus kutempuh. Inikah cara Tuhan mengajarkanku kesabaran. Inikah cerita yang harus kuselesaikan sebelum kutulis.
Aku gundah. Jujur saja, semua ini menyiksa. Lalu bagaimana aku harus bersikap. Bagaimana akhirnya.
Itu, dan segala pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.

Selasa, 28 Februari 2017

Hei , apa kabarmu? Rindukah kau padaku?
Sudahkah aku memberitahumu bahwa aku rindu?
Ini jarak yang jauh antara kau dan aku, tapi rindu tetaplah rindu. Ia butuh temu, butuh kamu.
Andai aku bisa membaca arah jalan pikiranmu. Tapi nyatanya aku tak bisa.
Aku hanya bisa menyimpan rindu padamu dalam buih-buih doa.
Entah ia adalah buku yang kau abaikan atau udara yang kau sepelekan. Ia tetap akan selalu ada disana, rindu itu. Menunggu menjemputnya.
Tidakkah cukup airmata ini menggenang disudut mataku tiap kali aku merindukanmu. Tidakkan cukup gemuruh dalam hatiku mengusik sunyinya malammu.
Mungkin memang banyal hal yang tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerinduan ini.
Sebelum kamu, sebelum aku, dipertemukan atas nama rindu.

Minggu, 03 Mei 2015

Aku berusaha, aku belajar, belajar mengerti perasaan mereka, belajar memahami keinginan mereka. Tapi mengapa apa yang kulakukan dengan suka rela malah sekarang menjadi berat. Bukan karena tak di hargai, tapi karena aku diragukan. Saat belajar memahami perasaan mereka, saat itu aku juga belajar untuk melawan diriku sendiri, sifatku.
Aku ingin mengeluh, mengapa mereka tak mengerti bahwa melawan diri sendiri itu sulit.
Tapi tak perlu mereka tahu. Tak perlu aku mengeluh. Biar kusimpan saja keluh kesah ini sendiri.
Marah juga sudah tak bisa. Aku malas. Biar aku mengerti mereka. Biar aku lanjutkan belajarku. Sakitku milikku. Semoga tak menyakiti mereka.

Hari ini aku mulai meresapi semua yang mereka katakan tentang penantian. Mereka bilang jangan pernah menunggu orang yang tak menghargaiku. Jangan berjuang jika dia tidak memperjuangkanku. Dulu, aku hanya berfokus untuk berusaha. Aku hanya berfokus bagaimana caranya agar bisa mengerti, melengkapi dan membahagiakannya. Padahal dia sendiripun sudah menegaskan bahwa aku bisa pergi, bahwa aku bisa menjauh, bahwa aku boleh meninggalkannya. Dia juga yang mengatakan bahwa dia tak cukup baik untukku. Bahwa dia memiliki banyak kekurangan, bahwa dia tak layak untukku. Saat itu aku sangat yakin bahwa manusia bisa berubah, begitu juga dengannya. Aku yakin bahwa suatu hari nanti hatinya akan luluh untukku. Suatu hari nanti dia akan memandangku dengan sepenuh hati. Tapi nyatanya, dia semakin hari semakin membuatku bingung.
Katanya, aku harus bersabar jika ingin mendapatkannya. Dia bersikap manis untuk menanggapi perhatianku. Tapi, di lain hari dia tak membalas pesanku. Tidak mengacuhkanku. Berhenti meresponku.
Kadang aku merasa jenuh. Kadang aku sebal. Tapi aku tak ingin marah padanya. Karena ini soal hatiku. Tentang rasaku. Aku tak bisa memaksakan kehendakku padanya. Semakin ia di desak, dia tak akan bahagia. Jika sudah begitu, bagaimana aku bisa bahagia? Sekarang, aku belajar ikhlas. Belajar merelakan dia. Belajar menerima kenyataan.
Masih tahap belajar.
Sampai tiba saatnya aku di uji dengan hal yang sama.
Jika tiba waktunya, aku akan tahu bagaimana caranya harus bersikap.

Sabtu, 02 Mei 2015

Pada saat" tertentu, aku lelah dengan semua yang kujalani. Tapi di saat yang lain, aku merasa memang sudah seharusnya aku berjalan di jalan ini. Aku kehilangan, benar. Aku berubah, itu juga benar. Aku berjuang sendirian, memperjuangkan seseorang yang aku tak tahu apakah dia juga mempertimbangkanku. Atau setidaknya menghargai usahaku.
Sedikit demi sedikit, pesan ku mulai terbalas. Tapi disaat yang sama aku merasa kosong. Entah apa, entah bagaimana, kekosongan itu hadir begitu saja.
Aku menyayanginya. Aku mengkhawatirkannya. Aku tak memaksa dia melakukan hal yang sama. Tapi sisi egoisku berkata bahwa seharusnya dia mengerti. Tapi pengertianpun tak bisa dipaksakan.
Lalu, aku menjadi seperti ini. Merasa khawatir sendirian. Bergumam doa agar dia tenang. Berbagi kisah agar aku tak terbebani. Disinilah aku sekarang, disudut hatiku, memperhatikan sekitar dan perasaan yang telah ku curahkan. Memutuskan akankah aku berlari lagi, meninggalkan masalah seperti sebelumnya. Aku masih diam, menunggu hatiku memutuskan.